BRANDA.CO.ID — Momentum unik terjadi pada 9 September 2026 ini. Kalender global mencatat dua peringatan internasional yang tampak berbeda namun memiliki benang merah yang sama kuat: Hari Internasional untuk Melindungi Pendidikan dari Serangan dan Hari Sudoku Internasional.
Menyikapi hal ini, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PAN, Hj. Dessy Susilawaty, S.Pd.I., mengajak masyarakat Indonesia untuk mengaitkan kedua momen tersebut dalam konteks yang lebih dekat, yaitu menjaga keamanan mental dan mengasah logika anak bangsa di tengah gempuran tren negatif digital
“Hari Internasional Melindungi Pendidikan dari Serangan mengingatkan kita bahwa sekolah harus menjadi zona aman. Di Indonesia, ‘serangan’ terhadap pendidikan tidak lagi berupa fisik militer, melainkan ancaman psikologis digital seperti maraknya cyberbullying, kecanduan gawai, hingga jeratan judi online pada anak,” ujar Dessy, Rabu (9/9/2026)
Menurut legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) V Kabupaten dan Kota Sukabumi ini, perlindungan terhadap anak-anak dari ancaman digital harus diimbangi dengan pengalihan aktivitas ke hal-hal yang melatih fokus. Di sinilah makna Hari Sudoku Internasional menjadi relevan. Permainan teka-teki logika angka ini dinilai bisa menjadi salah satu opsi alternatif edukatif yang murah dan efektif.
“Sudoku mengajarkan kita untuk sabar, fokus, dan berpikir terstruktur demi memecahkan masalah kotak 9×9. Jika anak-anak kita dibiasakan melatih otak dengan permainan logika seperti ini, mereka akan memiliki penalaran kritis yang kuat. Logika yang kritis inilah ‘perisai’ terbaik untuk melindungi mereka dari serangan manipulasi konten negatif di internet,” tutur Bendahara Fraksi PAN DPRD Jabar tersebut
Dessy berharap, perpaduan momentum di bulan September ini dapat menginspirasi para guru dan orang tua untuk lebih kreatif. Ia mendorong lingkungan sekolah di Jawa Barat menciptakan suasana belajar yang aman sekaligus menyenangkan melalui pendekatan permainan berbasis logika.
“Mari kita lindungi anak-anak kita. Jauhkan mereka dari ancaman dunia digital yang merusak, dan ajak mereka kembali mengasah otak dengan cara yang sehat,” pungkasnya. (***)

