BRANDA.CO.ID – Kuda Kosong menjadi salah satu kesenian khas Cianjur, Jawa Barat, yang selalu menarik perhatian saat helaran budaya. Penampilannya cukup unik karena seekor kuda dihias dengan jubah hijau, dan diarak tanpa penunggang.
Di balik pemandangan tersebut, ternyata tersimpan cerita sejarah tentang hubungan diplomasi antara Cianjur dan Kerajaan Mataram. Kuda Kosong bukan sekadar pertunjukan budaya.
Tradisi Kuda Kosong ini juga menjadi simbol kecerdikan diplomasi Cianjur pada masa pemerintahan Raden Wiratanu II. Kisahnya bermula ketika Cianjur yang saat itu baru berdiri diminta tunduk kepada Mataram.
Alih-alih menunjukkan perlawanan secara langsung, pihak Cianjur mengirim utusan dengan membawa pesan simbolis berupa beras, lada, dan cabai.
Menurut budayawan sekaligus sejarawan Cianjur, Luki Muharam, ketiga bahan tersebut memiliki makna tersendiri. Beras menjadi simbol bahwa Cianjur merupakan wilayah yang subur.
Lada menggambarkan Cianjur sebagai daerah yang masih baru terbentuk, sedangkan cabai menjadi pesan bahwa meskipun masih baru, Cianjur tetap memiliki keberanian untuk memberikan perlawanan.
Pesan tersebut ternyata berhasil dipahami oleh pihak Mataram. Bukannya marah, Mataram justru disebut kagum dengan cara diplomasi yang digunakan pemerintahan Cianjur.
Diplomasi tersebut kemudian membawa hasil. Cianjur tidak diposisikan sebagai negeri taklukan, melainkan diakui sebagai sahabat. Sebagai bagian dari hubungan tersebut, Cianjur juga mendapatkan sejumlah hadiah dari Mataram, salah satunya seekor kuda balap dengan perawakan tinggi dan besar.
Kenapa Disebut Kuda Kosong?
Kuda hadiah dari Mataram tersebut menempuh perjalanan sekitar satu bulan menuju Cianjur. Menariknya, selama perjalanan kuda itu tidak ditunggangi.
Kuda tersebut memang diberikan sebagai hadiah untuk Bupati Cianjur kedua. Karena itu, kuda dibawa tanpa penunggang sampai tiba di Cianjur. Setibanya di sana, para utusan disambut oleh dalem beserta jajarannya. Kuda pemberian Raja Mataram kemudian dibawa menuju pendopo Cianjur.
Kabar mengenai hadiah tersebut akhirnya menyebar di tengah masyarakat. Warga pun penasaran ingin melihat langsung kuda besar dan gagah yang diberikan oleh Raja Mataram.
Bupati Cianjur kemudian membuat kebijakan untuk memperlihatkan kuda tersebut kepada masyarakat. Sebelum diarak, kuda dihias terlebih dahulu, kemudian dibawa berkeliling jalan raya Cianjur.
Karena sejak dibawa dari Mataram hingga diarak di Cianjur kuda tersebut tidak ditunggangi, tradisi itu kemudian dikenal sebagai Kuda Kosong.
Kuda Kosong dan Makna Penghormatan
Tidak ditungganginya kuda tersebut juga memiliki cerita tersendiri. Luki Muharam menjelaskan, Raden Arya Kidul dan Raden Arya Cikondang tidak berani menunggangi kuda itu karena menghormati kakaknya.
Dari sinilah tradisi kuda yang berjalan tanpa penunggang terus melekat dalam budaya Cianjur. Seiring waktu, Kuda Kosong kemudian berkembang menjadi bagian dari helaran budaya yang menampilkan suasana kerajaan. Biasanya, iring-iringan kuda juga disertai pasukan dengan pakaian pengawal zaman kerajaan.
Dalam pawai tersebut juga terdapat tiga orang pengawal yang membawa kotak berisi tiga butir cabai, tiga butir beras, dan tiga butir lada. Kehadiran benda-benda tersebut menjadi pengingat terhadap pesan simbolis yang digunakan dalam kisah diplomasi Cianjur dengan Mataram.
Sempat Dikaitkan dengan Cerita Mistis
Seiring berjalannya waktu, makna Kuda Kosong mengalami pergeseran. Pada sekitar 1950-an, muncul cerita yang mengaitkan tradisi ini dengan unsur mistis.
Kuda yang awalnya dikenal sebagai simbol hadiah dari Mataram kemudian dipercaya tidak benar-benar kosong. Muncul cerita bahwa saat kuda diarak, sosok Raden Eyang Suryakencana, yang dipercaya sebagai leluhur Cianjur dari bangsa gaib, menaiki kuda tersebut.
Cerita tersebut membuat Kuda Kosong semakin menarik perhatian masyarakat. Antusiasme warga tidak hanya muncul karena ingin melihat kesenian tradisional, tetapi juga karena adanya kisah tentang Eyang Suryakencana.
Pada masa itu, pelaksanaan Kuda Kosong juga disertai sejumlah ritual. Di antaranya penyambutan kuda oleh pejabat daerah, prosesi penyiraman, hingga pengantaran kembali sosok Eyang Suryakencana setelah acara selesai.

