BRANDA.CO.ID – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Selawangi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, mulai mengambil peran lebih strategis dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Tak sekadar menjalankan aktivitas bisnis, BUMDes diarahkan menjadi penghubung antara kebutuhan produksi, hasil pertanian, hingga akses pasar bagi masyarakat desa. Petani dan pelaku UMKM menjadi sasaran utama dalam upaya membangun kemandirian ekonomi dari tingkat desa.
Hal tersebut terungkap dalam podcast Radio Citra Lestari (RCL) yang menghadirkan Sekretaris Desa Selawangi, Ririn Rintawati, S.IP., sebagai narasumber.
Ririn mengatakan, penguatan BUMDes menjadi bagian penting dari strategi Pemerintah Desa Selawangi dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Karena itu, pengelolaan BUMDes terus didorong agar berjalan secara profesional dan transparan, dengan orientasi utama bukan hanya pada keuntungan usaha, tetapi juga pada manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh warga.
“BUMDes kami hadir bukan hanya sebagai badan usaha, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan masyarakat. Pengelolaan yang profesional menjadi komitmen kami agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga, khususnya para petani dan pelaku UMKM,” kata Ririn.
Petani Tak Boleh Berjuang Sendiri
Sektor pertanian menjadi salah satu perhatian utama BUMDes Selawangi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membantu petani dalam menyalurkan hasil panen padi sekaligus menyediakan kebutuhan produksi pertanian.
Kebutuhan seperti bibit unggul hingga obat-obatan tanaman diupayakan tersedia sehingga petani tidak harus kesulitan mencari sarana produksi untuk menunjang kegiatan usaha taninya.
Langkah tersebut diharapkan tak hanya menjaga produktivitas, tetapi juga membantu petani memperoleh hasil usaha yang lebih baik.
“Kami ingin petani tidak kesulitan memperoleh bibit maupun sarana produksi pertanian. Dengan begitu kualitas hasil panen tetap terjaga, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan petani pun ikut terdongkrak,” jelasnya.
Bagi Pemerintah Desa Selawangi, persoalan pertanian tidak berhenti ketika petani berhasil memanen. Hasil produksi juga membutuhkan jalur distribusi dan pemasaran yang jelas agar jerih payah petani memiliki nilai ekonomi yang optimal.
Di sinilah BUMDes berupaya masuk ke dalam rantai ekonomi petani.
Dengan menyediakan sarana produksi sekaligus membantu penyaluran hasil panen, BUMDes diharapkan mampu membangun ekosistem ekonomi desa yang saling terhubung, dari proses produksi hingga pemasaran.
Penghargaan Bukan Tujuan Akhir
Kinerja BUMDes Selawangi dalam mendukung pembangunan ekonomi desa juga telah mendapat apresiasi melalui sejumlah penghargaan.
Namun bagi pemerintah desa, penghargaan tersebut bukanlah garis akhir.
Justru tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan tata kelola yang baik sekaligus memastikan keberadaan BUMDes memberikan dampak yang semakin nyata bagi masyarakat.
Sebab, ukuran keberhasilan BUMDes bukan hanya seberapa banyak unit usaha yang dijalankan, tetapi sejauh mana kehadirannya mampu membuka akses, memperkuat usaha warga, dan membuat perputaran ekonomi tetap hidup di desa.
Anggaran Menyusut, Pelayanan Tak Boleh Ikut Menurun
Di tengah penyesuaian anggaran desa, Pemerintah Desa Selawangi juga dihadapkan pada tantangan menjaga kualitas pelayanan publik.
Ririn menegaskan, keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Sebaliknya, kondisi tersebut harus dijawab dengan kerja yang lebih efektif, efisien, dan profesional.
“Berkurangnya anggaran bukan menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan. Justru menjadi tantangan bagi kami untuk bekerja lebih efektif, lebih profesional, dan memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan terbaik,” tegasnya.
UMKM Didorong, Ekonomi Desa Terus Diputar
Selain sektor pertanian, pelaku UMKM juga menjadi bagian penting dalam penguatan ekonomi Desa Selawangi.
Pemerintah desa membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk membantu produk usaha lokal mendapatkan akses promosi sekaligus memperluas pasar.
Salah satunya melalui dukungan terhadap kegiatan bazar UMKM yang digelar bersama Paguyuban UMKM Kecamatan Sukaraja dan pihak ketiga. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan program sembako murah bagi masyarakat.
Kolaborasi tersebut memberikan manfaat ganda.
Di satu sisi, pelaku UMKM memperoleh ruang untuk memperkenalkan dan memasarkan produknya. Di sisi lain, masyarakat mendapatkan akses terhadap kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Model kolaborasi seperti ini dinilai penting untuk menciptakan perputaran ekonomi yang tidak berhenti pada satu sektor saja.
Pemerintah desa, BUMDes, UMKM, komunitas, hingga pihak swasta didorong untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
“Kami berharap sinergi yang telah terbangun ini dapat terus berlanjut. Semoga Desa Selawangi dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, memperkuat perekonomian desa, serta menjadi contoh dalam membangun desa yang mandiri dan sejahtera,” pungkas Ririn.
Podcast RCL tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi Desa Selawangi dan menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi desa sejatinya dapat dibangun dari potensi yang ada di tengah masyarakat.
Ketika BUMDes mampu menghubungkan kebutuhan produksi, hasil pertanian, pemasaran, hingga pemberdayaan UMKM, maka perannya tak lagi sebatas badan usaha milik desa.
BUMDes dapat menjadi penggerak ekosistem ekonomi desa tempat produksi tumbuh, UMKM berkembang, petani mendapat akses, dan perputaran ekonomi kembali bermuara kepada masyarakat.***

