Daratan Baru 30,3 Hektare Muncul di Dekat Anak Krakatau, Benarkah Gunung Api Baru?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Sebuah fenomena geologi menarik perhatian publik di kawasan Selat Sunda. Daratan baru seluas kurang lebih 30,3 hektare muncul di kompleks kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan.

Terletak di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, kemunculan daratan ini mendadak ramai diperbincangkan di media sosial hingga dijuluki warga net sebagai “Cucu Krakatau”.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Suwarno, membenarkan adanya pembentukan daratan baru tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan dan pemantauan rutin, daratan ini terbentuk secara alami dari akumulasi endapan serta lontaran material vulkanik, seperti lava, batu, dan abu, yang dimuntahkan selama rentetan periode aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Para pakar geologi menjelaskan, bahwa fenomena ini merupakan bagian dari mekanisme alami bernama self-rebuilding(pembentukan kembali tubuh gunung api).

Saat erupsi terjadi, tidak semua material magmatis hilang ke udara atau tenggelam ke laut dalam. Sebagian material mengendap di punggungan serta kaki gunung hingga perlahan Dangkal dan membentuk daratan baru di atas permukaan laut.

Saking hebohnya rekaman video yang beredar di jagat maya, tidak sedikit masyarakat yang berspekulasi bahwa daratan ini adalah gunung api baru atau “Cucu Krakatau”.

Namun, pihak pengamat gunung api menegaskan bahwa status daratan tersebut masih berada di bawah pemantauan ketat.

Apakah daratan anyar ini nantinya akan membentuk pusat erupsi baru atau sekadar endapan endapan material vulkanik pasca-erupsi, kondisi bawah permukaan bumi tidak bisa diprediksi hanya dari bentukan luar. Yang pasti, daratan ini merupakan hasil langsung dari dinamika vulkanis Gunung Anak Krakatau.

Meski fenomena bentukan daratan baru ini memicu rasa penasaran publik, masyarakat, wisatawan, maupun nelayan diimbau untuk tidak lengah.

Petugas mengimbau masyarakat dan nelayan agar tidak mendekati area kawah aktif maupun daratan baru tersebut, dalam radius aman yang telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Selain itu, warga juga diminta untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu liar atau klaim tidak berdasar terkait “Cucu Krakatau”, dan selalu merujuk pada pembaruan informasi resmi dari PVMBG maupun Pos Pemantauan Gunung Api setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist