BRANDA.CO.ID – Budidaya lebah madu di Desa Selawangi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi terus menunjukkan potensinya sejak dirintis pada Desember 2023.
Meski saat ini produksi baru dijalankan secara mandiri oleh peternak Madu Adilia, produk lebah jenis Heterotrigona Itama ini telah ditetapkan sebagai salah satu produk unggulan desa yang terus didorong pemasarannya oleh pemerintah desa setempat.
Sekretaris Desa (Sekdes) Selawangi, Ririn Rintawati mengungkapkan, kapasitas produksi lebah madu utama di wilayahnya saat ini rata-rata mencapai 5 liter per bulan.
Dikemas dalam botol ukuran 250 ml, madu ini dijual seharga Rp90.000 per botol. Dengan total 20 botol yang dihasilkan setiap bulannya, usaha ini mampu meraup nilai ekonomi sebesar Rp1.800.000 per bulan.
“Secara kualitas, madu Selawangi telah melewati pengujian manual untuk mengukur kadar air. Namun untuk sertifikasi resmi saat ini belum dilakukan karena terkendala tingginya biaya pengujian serta volume produksi yang masih terbatas,” ujar Ririn kepada Branda.co.id, Senin (19/10/2026)
Untuk menjaga kelangsungan produksi, lebah madu memanfaatkan sumber pakan dari tanaman di sekitar lokasi budidaya.
Beberapa vegetasi yang menjadi andalan antara lain tanaman dombeya, air mata pengantin, acacia carva, durian, kelapa, kaliandra merah, hingga jagung. Kesamaan jenis vegetasi ini membuat cita rasa madu Selawangi cenderung identik dengan madu Itama dari daerah lain.
Perjalanan budidaya madu di Desa Selawangi bukan tanpa hambatan. Menurut Ririn, faktor cuaca dan ketersediaan pakan menjadi penentu utama stabilitas produksi. Selain itu, keterbatasan lahan khusus pakan lebah menjadi tantangan terbesar saat ini. Mayoritas lahan di desa merupakan area pertanian produktif yang masih menggunakan pestisida kimia, yang berisiko mengancam keselamatan koloni lebah. Kondisi ini pula yang membuat pihak pemerintah desa belum menargetkan Desa Selawangi sebagai sentra madu di Kabupaten Sukabumi.
Kendati demikian, Pemerintah Desa Selawangi tidak tinggal diam. Selama dua tahun pertama berjalan, desa telah aktif menyalurkan bantuan berupa pelatihan, peralatan, permodalan, hingga pendampingan pemasaran.
Produk Madu Adilia kini sudah memiliki merek serta kemasan khusus, dan mulai merambah pasar luar kota, meski mayoritas penjualan masih berputar di wilayah Sukabumi.
Menatap masa depan, Pemdes Selawangi telah menyiapkan strategi matang untuk 3 hingga 5 tahun ke depan. Langkah utama yang akan diambil adalah membangun kolaborasi antara pembudidaya lebah dan petani lokal.
Melalui kerja sama ini, para petani akan diedukasi untuk beralih menggunakan pestisida nabati yang aman bagi lebah. Selain itu, desa akan menggalakkan penanaman komoditas penunjang madu seperti jagung manis dan kopi.
Area pinggiran aliran sungai juga akan dihijaukan dengan tanaman sumber pakan lebah seperti pohon kopi, acacia carva, dan air mata pengantin guna mendongkrak volume produksi madu di masa mendatang. (Her)

