BRANDA.CO.ID – Saat menikmati hidangan khas Sunda, seperti nasi timbel, ikan bakar, atau sate maranggi, ada satu elemen yang tak pernah absen, yaitu lalapan.
Sepiring sayuran segar nan renyah ini bukan sekadar hiasan atau pelengkap, melainkan bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner Sunda. Lantas, bagaimana sejarahnya hingga lalapan menjadi begitu melekat dalam setiap sajian Sunda?
Jejak sejarah lalapan diperkirakan telah ada sejak lama, jauh sebelum pengaruh kuliner dari luar masuk ke tatar Sunda. Masyarakat Sunda kuno sangat dekat dengan alam dan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di sekitar mereka.
Berbagai jenis tumbuhan liar yang tumbuh subur di tanah Priangan, menjadi bagian penting dari keseharian termasuk sebagai sumber makanan. Secara tradisional, hidangan ini diyakini berakar dari praktik hidup sederhana dan memanfaatkan apa yang tersedia di alam.
Masyarakat Sunda yang agraris memiliki akses mudah ke berbagai jenis sayuran segar. Kebiasaan mengonsumsi sayuran mentah mungkin muncul sebagai cara praktis, untuk mendapatkan nutrisi langsung dari alam tanpa memerlukan proses memasak yang rumit.
Beberapa jenis seperti daun kemangi, selada air, timun, dan leunca tumbuh liar atau mudah dibudidayakan di pekarangan rumah. Sayuran-sayuran ini memiliki rasa dan aroma yang khas, ternyata tidak hanya menyegarkan tetapi juga dipercaya memiliki khasiat tertentu bagi kesehatan.
Misalnya, daun kemangi dikenal memiliki aroma yang kuat dan menyegarkan, serta dipercaya dapat membantu menghilangkan bau amis pada ikan atau daging.
Seiring berjalannya waktu, kebiasaan mengonsumsinya pun kemudian berpadu dengan berbagai hidangan utama. Kombinasi antara rasa gurih, pedas, atau manis dari lauk pauk dengan kesegaran dan tekstur renyah dari lalapan menciptakan harmoni rasa yang unik dan digemari.
Lalapan tidak hanya berfungsi sebagai penambah cita rasa, tetapi juga sebagai penyeimbang hidangan yang mungkin kaya akan lemak atau protein.
Selain aspek rasa dan nutrisi, hidangan ini juga memiliki nilai sosial dan budaya. Dalam tradisi makan bersama ala Sunda (“ngariung”), ia seringkali disajikan dalam wadah besar di tengah meja, dinikmati bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga atau komunitas.

