Tradisi Terunik di Dunia, Wanita di Thailand Harus Memanjangkan Leher

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.IDThailand, sebuah negara yang kaya akan budaya dan tradisi unik, menyimpan sebuah praktik yang telah menjadi daya tarik sekaligus misteri bagi banyak orang, yaitu tradisi memanjangkan leher.

Tradisi memanjangkan leher ini secara khusus dijalankan oleh sebagian anggota suku Karen, yang lebih dikenal dengan sebutan Karen Padaung atau “wanita berleher panjang.”

Tradisi memanjangkan leher juga berpusat pada kaum perempuan, di mana sejak usia muda, sekitar 5 hingga 9 tahun, mereka mulai mengenakan cincin kuningan spiral di leher.

Cincin ini, yang sebenarnya adalah kumparan logam padat, ditambahkan secara bertahap seiring bertambahnya usia, memberikan ilusi leher yang memanjang.

Berat kumparan ini bisa mencapai beberapa kilogram, dan seiring waktu, mereka menekan tulang selangka dan rusuk, sehingga bahu terlihat turun dan menciptakan penampilan leher yang lebih panjang.

Asal-usul tradisi ini masih menjadi perdebatan. Beberapa teori menyatakan bahwa praktik ini bertujuan untuk melindungi wanita dari gigitan harimau ,atau sebagai tanda kekayaan dan status sosial.

Ada pula yang berpendapat bahwa cincin ini berfungsi sebagai bentuk perlindungan diri dari perbudakan, atau bahkan sebagai identitas budaya yang membedakan mereka dari suku lain.

Bagi suku Karen Padaung sendiri, leher yang panjang adalah simbol kecantikan, keanggunan, dan identitas budayayang kuat. Semakin banyak cincin yang dikenakan, semakin cantik dan dihormati seorang wanita.

Tradisi ini juga diyakini sebagai bagian dari kepercayaan spiritual mereka, yang mengikat mereka dengan leluhur dan menjaga harmoni dalam komunitas.

Sebagian besar komunitas Karen Padaung di Thailand, adalah pengungsi yang melarikan diri dari konflik di Myanmar. Mereka tinggal di desa-desa yang kini banyak dikunjungi wisatawan, terutama di provinsi utara seperti Mae Hong Son dan Chiang Rai.

Kunjungan wisatawan ini, meskipun kontroversial di mata sebagian aktivis hak asasi manusia yang menganggapnya sebagai “kebun manusia,” telah menjadi sumber pendapatan utama bagi komunitas ini.

Meskipun demikian, kehidupan mereka tetaplah kompleks. Perdebatan etis seputar tradisi ini terus berlanjut.

Ada yang berpendapat bahwa tradisi ini seharusnya dihormati sebagai bagian dari warisan budaya, sementara yang lain mengkhawatirkan dampaknya terhadap kesehatan fisik dan kebebasan perempuan yang menjalani praktik ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist