Jejak Sejarah Benteng Fort Rotterdam, Tempat Megah Saksi Perlawanan Gowa-Tallo

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

 BRANDA.CO.ID – Benteng Fort Rotterdam, sebuah monumen sejarah yang kokoh berdiri di Makasar, menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban.

Dengan arsitektur unik yang memancarkan daya tarik tersendiri, Benteng Fort Rotterdam seolah mengundang siapa saja untuk menyelami kisah-kisah heroik, dan pergolakan yang pernah terjadi di tanah Sulawesi.

Jauh sebelum dikenal sebagai Benteng Fort Rotterdam, bangunan ini merupakan peninggalan megah Kerajaan Gowa-Tallo yang bernama Benteng Jumpandang, dibangun pada abad ke-15.

Kehadirannya kala itu memiliki tujuan krusial, yaitu memperkuat garis pertahanan Kerajaan Gowa di sepanjang pantai Makassar dari gempuran ekspansi kekuatan kongsi dagang Belanda, VOC atau Perusahaan Hindia Timur Belanda.

Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Benteng Jumpandang bahkan menjadi pusat persiapan strategi perang dalam menghadapi pasukan Belanda, menandai era perlawanan gigih.

Namun, sejarah berpihak lain. Pada abad ke-17, setelah Belanda menaklukkan Kerajaan Gowa melalui Perang Makassar pada tahun 1667, yang kemudian ditegaskan melalui Perjanjian Bungaya, sebagian besar benteng Kerajaan Gowa dihancurkan.

Beberapa di antaranya disisakan, dan Benteng Jumpandang termasuk yang kemudian diduduki Belanda. Di bawah kendali VOC, benteng ini mengalami transformasi besar.

Penamaan “Fort Rotterdam” sendiri diberikan berdasarkan kota kelahiran Cornelis J. Speelman, pemimpin VOC yang berhasil menaklukkan Gowa-Tallo.

Sejak saat itu, Benteng Fort Rotterdam menjelma menjadi pusat kolonial Belanda di Sulawesi. Struktur dan desainnya pun dirombak secara signifikan.

Lima bastion ditambahkan di sisi timur (bastion Amboina dan Mandarsyah) serta sisi barat (Bastion Bacan, Bone, dan Buton), mengubah bentuknya menyerupai seekor kura-kura. Keunikan bentuk ini kemudian memunculkan julukan lokal “Benteng Panyyua” dari warga Makassar.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, fungsi benteng ini sangat vital. Ia tak hanya menjadi markas komando pertahanan, tetapi juga pusat perdagangan, pusat pemerintahan, pemukiman bagi pejabat-pejabat Belanda, dan yang paling kelam, sebagai tahanan bagi para penentang Belanda.

Salah satu pahlawan Nasional Indonesia, Pangeran Diponegoro, pernah diasingkan di dalam Benteng Ujung Pandang ini selama periode 1834 hingga 1855, menjadikannya saksi bisu pengorbanan dan perjuangan.

Benteng ini pertama kali dibangun Raja Gowa Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumapa’risi Kallonna pada tahun 1545.

Kini, Benteng Fort Rotterdam telah bertransformasi. Bangunan-bangunan di dalamnya telah dialihfungsikan menjadi perkantoran dan pusat pengelolaan kebudayaan Sulawesi Selatan.

Lebih dari itu, benteng ini kini berfungsi sebagai sarana wisata budaya dan pendidikan yang penting, menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist