Suasana hangat terasa di Saung Jalu Selabintana, saat jajaran Bawaslu Kota Sukabumi berkumpul dalam sebuah refleksi sederhana. Tidak ada kemegahan panggung atau sorot kamera, hanya diskusi santai yang penuh makna: mengenang perjalanan tujuh tahun lembaga pengawas Pemilu di tingkat kabupaten/kota sejak berdiri pada 15 Agustus 2018.
BRANDA.CO.ID / 16 Agustus 2025
Hari lahir Bawaslu bukan sekadar perayaan usia. Bagi Bawaslu Kota Sukabumi, momen ini menjadi pengingat bahwa tugas mereka tidak selesai hanya setelah Pemilu digelar. Mereka ingin menegaskan bahwa demokrasi bukanlah acara lima tahunan, melainkan sebuah kerja panjang yang harus dijaga, bahkan ketika tak seorang pun memperhatikan.
“Kami tetap menjalankan tugas kelembagaan sebagai penjaga demokrasi, meski tidak ada tahapan Pemilu. Integritas itu justru diuji saat tidak ada kamera,” kata Ketua Bawaslu Kota Sukabumi, Yasti Yustia Asih, penuh keyakinan.
Perayaan sederhana ini diisi dengan berbagai kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat. Ada aksi donor darah bersama PMI Kota Sukabumi, sebuah pengingat bahwa setetes darah bisa menyelamatkan nyawa seseorang.
Ada pula penguatan peran pengawas partisipatif, di mana Bawaslu melibatkan penyandang disabilitas serta generasi muda melalui Saka Adhyasta Pemilu.
“Pengawasan bukan hanya milik Bawaslu. Itu tanggung jawab bersama seluruh rakyat Kota Sukabumi,” tegas Yasti. Melibatkan masyarakat sejak dini, menurutnya, adalah kunci menciptakan demokrasi yang sehat.
Di tengah obrolan reflektif itu, Yasti sempat menggambarkan betapa demokrasi tidak lahir dari kemewahan. Ia justru lahir dari kerja-kerja kecil yang konsisten—dari ruang kantor sederhana yang siap menerima aduan publik, dari ketekunan mendatangi pelosok untuk memastikan data kependudukan, hingga dari tangan-tangan relawan muda yang ikut mengawasi jalannya Pemilu.
“Demokrasi yang kuat lahir dari konsistensi, bukan dari fasilitas mewah. Kami berharap Kota Sukabumi bisa menjadi pilot project Kota Demokrasi,” pungkasnya.
Dari saung sederhana hingga mimpi besar menjadikan Sukabumi sebagai teladan demokrasi, perjalanan tujuh tahun Bawaslu Kota Sukabumi adalah bukti bahwa menjaga suara rakyat bukanlah pekerjaan singkat. Ia adalah pengabdian yang harus terus dijalani, bersama masyarakat, untuk Indonesia yang lebih adil dan demokratis.***

