Mengenal Proses Bayi Tabung, Solusi Medis untuk Pasangan yang Sulit Punya Anak

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Bayi tabung atau in vitro fertilization merupakan metode pembuahan sel telur oleh sperma di laboratorium, bukan di dalam tubuh. Proses ini menghasilkan embrio, yang kemudian dipilih dan ditransfer ke rahim agar berkembang menjadi kehamilan.

Sejak kelahiran bayi tabung pertama dunia, Louise Joy Brown (1978), hingga Indonesia, dengan bayi tabung pertama pada 1988, metode ini telah membuktikan efektivitasnya.

Meskipun lahir dari teknologi medis, anak bayi tabung memiliki kemampuan fisik dan mental yang setara dengan anak yang lahir secara alami. Namun, mereka cenderung lahir prematur dengan berat lahir rendah, makanya kesiapan ibu dan bayi sangatlah krusial.

Program ini dipertimbangkan oleh pasangan yang mengalami hambatan reproduksi, seperti suami yang tidak menghasilkan sperma, kualitas sperma buruk, atau motilitas rendah.

Selain itu, bisa juga untuk istri yang mengalami infertilitas, cadangan ovarium rendah, atau masalah struktural reproduksi misalnya saluran tuba tersumbat atau gangguan jaringan rahim.

Tak hanya itu, tapi disarankan juga untuk pasangan yang digolongkan tidak subur, istri yang berulang kali mengalami keguguran, hingga gangguan hormonal seperti PCOS.

Biasanya, dokter menyarankan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum merekomendasikan bayi tabung, karena biaya program IVF tergolong tinggi.

Seperti yang diketahui, tujuan utama dari program inj adalah mewujudkan kehamilan sehat pada ibu dan bayi, terutama bagi pasangan yang tidak bisa hamil secara alami karena berbagai hambatan reproduksi.

Secara garis besar, proses IVF terbagi menjadi lima tahap utama, yaitu:

1 Induksi ovulasi
Stimulasi ovarium dengan obat agar menghasilkan lebih banyak sel telur daripada siklus alami

2. Pengambilan sel telur
Setelah matang, dokter mengambil sel telur dari ovarium dan mengevaluasi kualitasnya

3. Pembuahan
Sperma dan sel telur dipertemukan di laboratorium—bisa lewat metode tradisional atau dengan ICSI (injeksi langsung sperma ke telur) jika diperlukan

4. Pemilihan dan persiapan embrio
Embrio yang terbentuk dievaluasi, dan embrio berkualitas dipilih untuk ditanamkan ke rahim

5. Transfer embrio
Embrio ditanamkan ke rahim sekitar hari ke-5 pasca pembuahan. Kehamilan terjadi jika embrio berhasil menempel dan berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist