Kenapa Namanya Harus Lubang Buaya? Ternyata Ini Fakta Unik di Balik G30SPKI

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Lubang Buaya adalah sebuah nama yang tak hanya dikenal sebagai sebuah lokasi di Jakarta Timur, tetapi juga sebagai saksi bisu dari peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia, Gerakan 30 September 1965 atau G30SPKI.

Nama Lubang Buaya ini kini melekat erat dengan tragedi G30SPKI yang menewaskan tujuh perwira TNI Angkatan Darat, yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi.

Sebelum peristiwa G30SPKI, kawasan ini dikenal dengan nama Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Nama “Lubang Buaya” sendiri berasal dari sebuah legenda masyarakat setempat.

Diceritakan bahwa di sekitar sungai Kali Sunter, terdapat buaya putih yang dipercaya sebagai siluman. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Pangeran Gagak Jakalumayung.

Legenda ini mengisahkan bahwa buaya-buaya tersebut membuat lubang sebagai tempat berkumpul, yang kemudian dikenal dengan nama “Lubang Buaya”.

Seperti yang diketahui, pada malam 30 September 1965, tujuh perwira TNI AD diculik dan dibunuh oleh anggota PKI. Jenazah mereka ditemukan pada 1 Oktober 1965 di sebuah sumur tua sedalam 12 meter, yang terletak di kawasan Lubang Buaya. Sumur ini kemudian dikenal sebagai “Sumur Maut”.

Para korban yang gugur dalam peristiwa tersebut adalah:

  • Jenderal Ahmad Yani
  • Mayjen R. Soeprapto
  • Mayjen M.T. Haryono
  • Mayjen S. Parman
  • Brigjen D.I. Panjaitan
  • Brigjen Sutoyo
  • Lettu Pierre A. Tendean

Untuk mengenang jasa para Pahlawan Revolusi, dibangunlah Monumen Pancasila Sakti di lokasi tersebut. Monumen ini diresmikan pada 1 Oktober 1966 dan menjadi simbol perjuangan, serta pengorbanan para pahlawan yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI.

Di sekitar monumen, terdapat Museum Pancasila Sakti yang menyimpan berbagai koleksi sejarah terkait peristiwa tersebut, termasuk diorama, foto, dan barang-barang peninggalan.

Museum ini menjadi salah satu destinasi edukasi penting bagi masyarakat, untuk mengenal lebih dalam sejarah bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist