Asal-usul Kuliner Betawi Kerak Telor, Ternyata Ditemukan Secara Tidak Sengaja!

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Kerak telor adalah salah satu kuliner khas Betawi yang hingga kini tetap eksis dan menjadi bagian dari identitas kuliner Jakarta. Makanan ini dikenal karena cita rasanya yang gurih dan teksturnya yang unik.

Namun, tahukah Anda bahwa kerak telor tercipta secara tidak sengaja dan memiliki sejarah panjang yang menarik? Nah diketahui, hidangan ini pertama kali muncul pada masa penjajahan Belanda di abad ke-18.

Masyarakat Betawi yang tinggal di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, melakukan eksperimen memasak dengan bahan-bahan lokal seperti kelapa dan beras ketan. Dari percobaan tersebut, terciptalah makanan yang kini kita kenal sebagai kerak telor.

Pada awalnya, makanan ini merupakan hidangan yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan elit Belanda, karena bahan-bahannya yang dianggap eksotis dan mahal.

Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat Betawi mulai menjajakan makanan ini dengan harga terjangkau, sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Untuk membuat hidangan ini, bahan utama yang digunakan adalah beras ketan, telur ayam atau bebek, kelapa parut, dan rempah-rempah seperti bawang merah dan bawang putih. Proses memasaknya dilakukan dengan cara unik, yaitu menggunakan wajan khusus yang disebut “teloq”.

Wajan ini dipanaskan di atas bara arang, kemudian adonan dimasukkan dan dimasak hingga bagian bawahnya menjadi kering dan berkerak. Setelah itu, kerak telor dibalik dan dipanggang hingga matang sempurna.

Setelah matang, hidangan pun ini disajikan di atas daun pisang dengan taburan serundeng dan bawang goreng. Rasa gurih dan sedikit manis dari kerak telor membuatnya menjadi camilan yang digemari banyak orang.

Tentunnya, kerak telor bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari budaya Betawi. Pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, kuliner ini mulai dipromosikan secara luas sebagai makanan khas Jakarta.

Sejak saat itu, ia menjadi sajian wajib dalam berbagai perayaan kota, termasuk di Pekan Raya Jakarta setiap bulan Juni untuk menyambut ulang tahun ibu kota.

Menariknya, penjual kuliner ini biasanya mengenakan pakaian adat Betawi seperti baju pangsi atau sadariah, serta membawa bakul pikulan yang menjadi ciri khas mereka.

Hal ini menjadikannya tidak hanya sebagai kuliner, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya Betawi yang kaya akan tradisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist