BRANDA.CO.ID – Sebanyak 33.772 ton gabah dan beras setara beras ditargetkan terserap dari wilayah kerja Cianjur dan Sukabumi sepanjang tahun 2026.
Angka ini bukan sekadar deretan statistik, melainkan bagian dari ikhtiar besar Perum BULOG Subdivre Cianjur mewujudkan kemandirian dan swasembada pangan, sejalan dengan program Asta Cita Presiden.
Target tersebut meningkat 28 persen dibandingkan realisasi tahun 2025, sekaligus menjadi bagian dari target nasional penyerapan sekitar 4 juta ton setara beras.
Kepala Perum BULOG Subdivre Cianjur, Yanto Nurdianto, menyebut penugasan ini sebagai amanah strategis yang harus dijalankan dengan kerja kolaboratif.
“BULOG Cianjur telah menerima surat penugasan penyerapan gabah dan beras tahun 2026 sebanyak 33.772 ton setara beras. Angka ini naik signifikan dibandingkan tahun lalu,” kata dia kepada wartawan, belum lama ini.
Di balik target besar itu, pemerintah menetapkan kebijakan harga yang diharapkan berpihak pada petani. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) ditetapkan Rp6.500 per kilogram untuk semua kualitas, sementara beras medium dibeli dengan harga Rp12.000 per kilogram, sesuai standar mutu gudang BULOG.
Bagi petani, kepastian harga ini menjadi angin segar. Gabah yang selama ini kerap terombang-ambing fluktuasi pasar, kini memiliki jaminan serapan dengan harga yang lebih layak.
Tak menunggu lama, BULOG Cianjur langsung bergerak. Rapat internal digelar, sosialisasi dilakukan kepada mitra kerja, dan koordinasi lintas sektor diperkuat. Dinas pertanian, penyuluh pertanian lapangan (PPL), hingga unsur TNI melalui Kodim di Cianjur dan Sukabumi turut dilibatkan.
“Setelah koordinasi, kami langsung turun ke lapangan bersama mitra, PPL, dan Babinsa,” kata Yanto.
Langkah cepat itu mulai menunjukkan hasil. Hingga akhir Januari, realisasi penyerapan telah mencapai sekitar 1.031 ton atau 3,52 persen dari total target.
Angka yang mungkin masih kecil di atas kertas, namun menjadi fondasi awal menuju target besar sepanjang tahun.
Cuaca menjadi tantangan tersendiri. Hujan yang terus turun berpotensi menghambat proses panen dan pengeringan gabah. Namun, Yanto berharap kondisi tersebut tidak menjadi penghalang serius bagi proses penyerapan di tingkat petani.
Lebih dari sekadar memenuhi target, program ini diharapkan memberi dampak langsung bagi kesejahteraan petani. Dengan harga yang lebih stabil dan serapan yang pasti, petani didorong untuk terus meningkatkan produktivitas, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas hasil panen.
“Dengan harga yang layak, petani diharapkan semakin sejahtera dan termotivasi meningkatkan hasil panen,” ujarnya.
Pada akhirnya, gabah yang diangkut dari sawah-sawah Cianjur dan Sukabumi itu akan tersimpan rapi di gudang Bulog Cianjur. Menjadi bagian dari Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), sekaligus penopang program strategis nasional seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Bantuan Pangan Beras.***

