BRANDA.CO.ID – Kisah Sukitman menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah peristiwa G30SPKI, terutama dalam proses pencarian korban di kawasan Lubang Buaya. Saat itu, ia merupakan Agen Polisi tingkat II yang tanpa sengaja ikut dibawa ke lokasi tersebut.
Kesaksian Sukitman kemudian menjadi petunjuk bagi pasukan keamanan untuk mencari lokasi tempat para korban G30SPKI dibawa. Informasi yang disampaikannya mengarahkan pencarian hingga akhirnya ditemukan sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya.
Peristiwa G30SPKI tersebut bermula pada dini hari 1 Oktober 1965 sekitar pukul 03.00 WIB. Sukitman bersama rekannya, Sutarso, sedang berjaga dan melakukan patroli. Keduanya bertugas di Seksi Vm Kebayoran Baru yang berada di Wisma AURI, Jalan Iskandarsyah, Jakarta.
Saat patroli, Sukitman mendengar suara tembakan dari arah kediaman D.I. Panjaitan di Jalan Sultan Hasanudin. Ia kemudian mendatangi sumber suara menggunakan sepeda kumbang sambil membawa senjata.
Namun, di tengah perjalanan, Sukitman dihentikan oleh sejumlah tentara berseragam loreng dengan baret merah. Ia diperintahkan turun, melempar senjata, dan mengangkat tangan.
Sukitman kemudian ditangkap. Tangannya diikat dan matanya ditutup menggunakan kain merah, sebelum dirinya dibawa menggunakan kendaraan menuju Lubang Buaya. Saat itu, Sukitman masih berusia 22 tahun.
Setelah dibawa ke Lubang Buaya, Sukitman akhirnya berhasil melarikan diri. Ia kemudian melaporkan kepada pasukan keamanan mengenai apa yang dilihatnya selama berada di lokasi tersebut.
Kesaksian Sukitman menjadi informasi penting dalam upaya menemukan keberadaan para korban yang dibawa ke kawasan Lubang Buaya. Berdasarkan informasi tersebut, pencarian kemudian diarahkan ke kawasan yang saat itu masih berupa lingkungan kebun karet.
Pada 3 Oktober 1965, berdasarkan petunjuk yang diperoleh dari Sukitman, tim pencari menemukan timbunan tanah dan sampah yang diduga berkaitan dengan lokasi penguburan korban.
Setelah dilakukan penggalian, tim menemukan sebuah sumur tua. Proses penggalian sempat mengalami kendala teknis sehingga sempat dihentikan oleh Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.
Pada hari berikutnya, Soeharto datang ke lokasi sumur tua tersebut bersama anggota Kesatuan Intai Para Amphibi dari KKO-AL dan RPKAD. Dari lokasi itulah kemudian ditemukan para korban yang sebelumnya dicari.
Kesaksian Sukitman menjadi salah satu informasi yang digunakan dalam pencarian korban G30S PKI di Lubang Buaya. Ia mengalami sendiri penangkapan ketika sedang menjalankan tugas patroli dan kemudian memberikan keterangan mengenai lokasi tempat dirinya dibawa.
Dengan informasi tersebut, pasukan keamanan memiliki petunjuk untuk mengarahkan pencarian ke kawasan Lubang Buaya, hingga menemukan sumur tua yang menjadi lokasi ditemukannya korban.

