BRANDA.CO.ID – Tertawa adalah ekspresi alami kegembiraan dan kebahagiaan yang identik dengan kesehatan jiwa dan raga. Namun, pernahkah Anda mendengar ungkapan “tertawa sampai mati”?
Meskipun terdengar seperti kiasan atau mitos belaka, ternyata ada beberapa kasus langka dalam sejarah, yang secara anekdotal atau medis mengaitkan tertawa berlebihan dengan kondisi fatal.
Lalu, benarkah manusia bisa mati karena tertawa? Mari kita telaah fakta unik di balik fenomena ini.
Secara medis, tawa itu sendiri tidak langsung membunuh seseorang. Tawa adalah respons fisiologis yang melibatkan kontraksi otot-otot pernapasan, perubahan tekanan darah, dan pelepasan endorfin.
Dalam keadaan normal, ini sangat bermanfaat bagi kesehatan, mengurangi stres, dan meningkatkan suasana hati. Namun dalam kasus yang ekstrem, tawa bisa memicu serangkaian kondisi medis yang berpotensi fatal, terutama jika seseorang sudah memiliki masalah kesehatan yang mendasarinya.
Salah satu kondisi yang paling sering dikaitkan adalah asfiksia atau sesak napas akut. Tertawa yang tak terkontrol bisa menyebabkan seseorang kesulitan mengambil napas, terutama jika saluran napasnya terhalang.
Dalam beberapa kasus ekstrem, seseorang bisa kehabisan napas karena tertawa terlalu keras dan lama. Selain itu, tawa berlebihan juga bisa memicu serangan jantung atau stroke pada individu yang rentan.
Saat tawa berlangsung, tekanan darah dapat meningkat sementara, detak jantung menjadi lebih cepat, dan ada peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik.
Bagi seseorang dengan riwayat penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, atau aneurisma otak, lonjakan ini dapat menjadi pemicu yang berbahaya.
Ada beberapa laporan kasus sejarah, seperti Philemon, seorang penyair komedi Yunani kuno, yang konon meninggal karena tertawa setelah melihat seekor keledai memakan buah ara miliknya.

