BRANDA.CO.ID – Suku Korowai adalah komunitas asli yang tinggal di wilayah adat Anim‑Ha, di selatan Papua, mencakup daerah Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappi.
Suku Korowai kadang disebut Klufo Fyumanop, yang berarti “orang yang berjalan kaki”, sebagai pembeda dari suku yang transportasinya perahu.
Ciri khas yang paling dikenal dari Suku Korowai adalah rumah‑pohonnya, dibangun tinggi di atas pohon atau tiang, bahkan mencapai 40‑70 meter dari tanah. Rumah seperti ini bukan hanya soal estetika atau keunikan, tapi dijadikan strategi keamanan menahan diri dari serangan musuh.
Walau hidup berpindah‑pindah, Korowai tidak bergerak bebas ke mana pun. Mereka hanya tinggal dan meramu di dalam wilayah hak ulayat mereka sendiri, sesuai marga atau klien masing‑masing.
“Hak ulayat” adalah bagian penting dalam budaya mereka. Itu berarti tanah adat mereka memiliki batas jelas yang dijaga antar marga atau klien.
Apabila salah satu Korowai menebang hewan di wilayah adat marga lain, misalnya, mereka harus meminta izin dulu. Jika tidak, bisa memicu konflik.
Metode bertahan hidup sehari‑hari mereka termasuk meramu atau mengumpulkan makanan dari alam, seperti berburu, menangkap ikan, dan pengambilan sagu, semuanya dilakukan dalam wilayah adatnya.
Selain itu, bahasa mereka juga termasuk dalam rumpun bahasa Trans‑New Guinea, tepatnya bagian dari rumpun Awyu. Struktur kalimatnya berbeda dengan bahasa Indonesia karena memakai pola subjek‑objek‑predikat
Untuk ekspresi budaya, ada tarian Kulomon atau Tarian Tate yang biasanya ditampilkan saat pesta ulat sagu; dan tarian Hasam, yaitu tarian busur, ketika berburu atau dalam konteks perang adat.
Seiring waktu, pemerintah melakukan program pemukiman kembali untuk beberapa kelompok Korowai, misalnya di Kampung Basman.

