BRANDA.CO.ID – Suku Mursi merupakan salah satu kelompok etnis yang mendiami wilayah Lembah Omo, Ethiopia selatan. Suku ini dikenal luas karena tradisi unik dan ekstrem yang melibatkan pemasangan “piring bibir” pada perempuan.
Tradisi Suku Mursi ini telah menjadi perhatian dunia karena bentuknya yang tidak biasa, namun bagi masyarakatnya sendiri, praktik ini memiliki makna budaya yang sangat penting sebagai simbol identitas, kedewasaan, dan harga diri.
Tradisi piring bibir atau lip plate pada Suku Mursi dilakukan dengan cara melubangi bagian bawah bibir perempuan muda, biasanya saat memasuki usia remaja sekitar 15–18 tahun. Lubang tersebut kemudian secara bertahap diperbesar menggunakan alat kecil, hingga dapat dipasangi piring dari tanah liat atau kayu.
Proses ini dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu, sehingga ukuran piring dapat semakin besar seiring waktu. Piring tersebut sering dipakai oleh perempuan yang telah memasuki usia siap menikah.
Meski terlihat ekstrem dari sudut pandang luar, bagi masyarakat Mursi, piring bibir memiliki makna yang dalam. Tradisi ini dianggap sebagai simbol kecantikan, kedewasaan, dan identitas sosial perempuan Mursi.
Selain itu, lip plate juga dipahami sebagai tanda kesiapan seorang perempuan untuk menikah. Dalam beberapa interpretasi budaya, ukuran piring bibir bahkan pernah dikaitkan dengan status sosial dan besarnya mahar pernikahan yang diberikan keluarga mempelai pria.
Namun, beberapa penelitian antropologi juga menunjukkan bahwa makna tradisi ini tidak tunggal. Sebagian masyarakat Mursi memaknainya sebagai ekspresi harga diri, kekuatan, dan identitas budaya, bukan sekadar simbol pernikahan.
Proses pemasangan piring bibir dilakukan oleh perempuan dari keluarga atau komunitasnya. Awalnya, bibir bawah akan disayat kecil, kemudian dimasukkan penyangga kayu atau tanah liat. Setelah luka sembuh, ukuran penyangga diperbesar secara bertahap hingga bibir dapat menahan piring yang lebih besar.
Menariknya, setiap perempuan biasanya membuat sendiri piring bibir mereka dengan hiasan tertentu, sehingga setiap lip plate memiliki ciri khas masing-masing.
Dalam beberapa dekade terakhir, tradisi ini mulai mengalami penurunan. Faktor pendidikan, modernisasi, serta pengaruh luar membuat sebagian perempuan muda Mursi memilih untuk tidak melanjutkan praktik ini.
Selain itu, tekanan dari pemerintah dan pandangan kesehatan juga turut mempengaruhi keberlangsungan tradisi tersebut. Meski demikian, di beberapa komunitas, lip plate masih tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari warisan budaya yang dianggap harus dilestarikan.

