BRANDA.CO.ID – Di tengah beragamnya khazanah kuliner Jawa Barat, terselip sebuah hidangan sederhana namun kaya akan makna dan cita rasa, yaitu ulen.
Bagi sebagian besar masyarakat Sunda, ulen bukanlah sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi dan kenangan masa kecil. Namun, tahukah Anda dari mana sebenarnya hidangan kenyal dan gurih ini berasal? Mari kita telaah lebih dalam asal-usul kuliner unik ini.
Secara harfiah, kata “ulen” dalam bahasa Sunda berarti “menguleni” atau “memijat”. Nama ini sangat erat kaitannya dengan proses pembuatannya yang memang melibatkan pengulenan adonan ketan hingga mencapai tekstur yang diinginkan.
Namun, menelusuri akar sejarah ulen lebih jauh membawa kita pada pemahaman tentang kearifan lokal, dan pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah di tatar Sunda.
Konon, hidangan ini telah dikenal sejak lama di kalangan masyarakat agraris Sunda. Beras ketan, sebagai bahan utama, merupakan hasil bumi yang penting dan sering diolah menjadi berbagai macam penganan.
Pada masa lalu, sebelum teknologi pengolahan padi secanggih sekarang, beras ketan seringkali ditumbuk secara tradisional menggunakan lesung dan alu. Proses penumbukan ini menghasilkan tepung ketan yang kemudian menjadi bahan dasar pembuatan ulen.
Lebih dari sekadar memanfaatkan hasil panen, pembuatan hidangan ini juga dipercaya memiliki nilai kebersamaan dan gotong royong. Proses mengukus ketan, menumbuknya, hingga menguleninya seringkali dilakukan bersama-sama oleh anggota keluarga atau bahkan tetangga.
Ulen pada awalnya mungkin merupakan hidangan sederhana yang disajikan sebagai pengganjal perut. saat bekerja di ladang atau sebagai bekal perjalanan. Kepraktisan dan kandungan karbohidrat yang tinggi menjadikannya pilihan yang tepat untuk menambah energi.
Seiring berjalannya waktu, hidangan ini pun kemudian menjadi bagian dari berbagai acara dan perayaan tradisional Sunda. Kehadirannya seringkali tidak terpisahkan dari acara seperti pernikahan, khitanan, atau sekadar kumpul keluarga.

