Potret Kampung Artis, Dulu Langganan Lokasi Syuting Kini Sudah Terbengkalai

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.IDNama “Kampung Artis” mungkin sudah tidak asing lagi, di telinga para penggemar sinetron dan film Tanah Air era 90-an hingga awal 2000-an.

Kampung Artis yang miliki luas 5 hektare di Cipayung, Jakarta Timur, ini dulunya adalah surga bagi para rumah produksi. Berbagai set bangunan seperti rumah mewah, rumah tradisional, kantor, masjid, sekolah, hingga halte, menjadikannya primadona lokasi syuting.

Namun, seiring berjalannya waktu, gemerlap itu kini telah meredup. Kampung Artis yang pernah jadi saksi bisu ribuan adegan drama ini, kini terbengkalai dan menyisakan potret pilu.

Kawasan di Cipayung ini dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan produksi film, dan sinetron tanpa perlu berpindah-pindah lokasi terlalu jauh. Hampir 80% sinetron dan film produksi Indonesia pada tahun 2010 dikabarkan menggunakan area ini.

Keberagaman set, mulai dari rumah bergaya modern, klasik, hingga rumah adat seperti Betawi dan Joglo, memberikan fleksibilitas tak terbatas bagi para sineas.

Bahkan, ada juga set rumah sakit, restoran, dan salon, membuat proses syuting menjadi sangat efisien. Namun, beberapa tahun belakangan, nasib Kampung Artis berbalik 180 derajat.

Entah karena pergeseran tren produksi, perubahan lokasi syuting, atau masalah perawatan, tempat ini perlahan ditinggalkan. Bangunan-bangunan yang dulunya megah kini mulai lapuk dimakan usia, bahkan beberapa di antaranya nyaris ambruk.

Jika menjejakkan kaki di Kampung Artis saat ini, suasana yang terasa jauh berbeda dari hiruk pikuk syuting di masa lalu. Rumput liar tumbuh meninggi, menutupi jalanan set yang dulunya mulus.

Bangunan-bangunan yang kusam dan retak, serta jendela dan pintu yang copot, memberikan kesan angker dan terbengkalai.

Beberapa potret yang beredar di media sosial menunjukkan betapa memprihatinkannya kondisi Kampung Artis saat ini.

Rumah-rumah yang dulunya menjadi latar kisah romantis atau konflik keluarga, kini atapnya banyak yang jebol, dindingnya mengelupas, dan catnya pudar hingga memberikan kesan menyeramkan.

Taman dan danau buatan yang dulunya indah kini ditumbuhi rumput dan ilalang di mana-mana, menciptakan pemandangan yang tak terurus.

Selain itu, Halte legendaris yang sering menjadi lokasi adegan romantis kini ditumbuhi semak belukar. Kondisi jalanan pun sudah tertutup tanah dan rumput, menandakan tidak adanya aktivitas berarti.

Di salah satu sudut bangunan tua, terdapat patung mendiang musisi reggae Mbah Surip, seolah menjadi penanda kenangan dari era kejayaan tempat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist