Sejarah Bakpia di Tanah Jawa, Dibawa Orang Tionghoa Pada Abad Ke 19!

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Bakpia, camilan manis berbentuk bulat pipih dengan aneka isian, telah menjadi ikon kuliner Yogyakarta yang tak terpisahkan. Namun tahukah Anda, hidangan ini menyimpan kisah akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang menarik? Mari kita telusuri asal-usulnya.

Sejarah bakpia berawal dari Tiongkok, tempat kue sejenis yang disebut “tou luk pia” dikenal luas. “Tou luk pia” secara harfiah berarti “kue pia kacang hijau”.

Bakpia biasanya dibuat dengan isian pasta kacang hijau manis, yang di mana hal ini merupakan bagian dari tradisi kuliner Tiongkok kuno.

Pada abad ke-19, gelombang imigran Tionghoa datang ke Nusantara, termasuk ke wilayah Yogyakarta. Mereka membawa serta tradisi, budaya, dan tentu saja, kuliner khas mereka. Di antara berbagai hidangan yang mereka perkenalkan, “tou luk pia” menjadi salah satu yang mulai dikenal masyarakat lokal.

Setibanya di Yogyakarta, para imigran Tionghoa mulai mengadaptasi resep “tou luk pia” dengan bahan-bahan lokal yang lebih mudah ditemukan. Awalnya, proses pembuatannya masih sangat sederhana dan dilakukan secara rumahan.

Mereka menjajakannya dari pintu ke pintu atau di pasar-pasar tradisional. Proses akulturasi terjadi secara alami. Masyarakat Jawa, dengan cita rasa dan tradisi kulinernya yang kaya, mulai menerima dan bahkan memodifikasi kue ini.

Penggunaan gula merah, yang merupakan pemanis umum di Jawa, mulai diperkenalkan sebagai variasi isian. Teknik memanggang yang disesuaikan dengan ketersediaan alat juga menjadi bagian dari adaptasi ini.

Nama “bakpia” sendiri adalah bukti nyata akulturasi. Kata ini merupakan gabungan dari dua kata, yakni Bak yang artinya daging, dan Pia” artinya kue atau roti.

Meskipun secara etimologi diartikan kue daging, seiring waktu dan adaptasi, isian kacang hijau manis menjadi standar. Namun, nama “bakpia” tetap melekat, mencerminkan asal-usulnya yang kuat dari budaya Tionghoa.

Pada awal abad ke-20, produksi cemilan ini mulai berkembang lebih terstruktur. Salah satu tonggak penting adalah munculnya sentra produksi bakpia di daerah Pathuk, Yogyakarta, yang kemudian dikenal sebagai Bakpia Pathuk.

Inovasi terus berlanjut, dari varian isian kacang hijau original hingga munculnya berbagai rasa baru seperti keju, cokelat, kumbu hitam, dan ubi ungu, memenuhi selera konsumen yang semakin beragam.

Kini, bakpia tidak hanya sekadar oleh-oleh, melainkan juga bagian dari identitas budaya Yogyakarta. Setiap gigitannya membawa kita pada sebuah kisah perpaduan harmonis antara dua budaya besar, Jawa dan Tionghoa, yang menghasilkan salah satu camilan paling dicintai di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist