Dari Limbah Jadi Berkelas Dunia, Jakaria Satu-satunya Pengusaha Amber di Kota Sukabumi Tembus Pasar Internasional

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

 

BRANDA.CO.ID – Kreativitas tanpa batas ditunjukkan Jakaria (40), warga Kampung Legok RW 02/01, Kelurahan Sindangpalay, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi.

Ia berhasil mengolah amber (getah yang membatu) dari limbah pertambangan batubara menjadi perhiasan bernilai tinggi yang kini diminati pasar internasional, khususnya kawasan Timur Tengah.

Usaha yang dirintis sejak sekitar 12 tahun lalu itu berawal dari ketertarikannya terhadap amber asal Baltik Polandia yang dikenal berkualitas tinggi.

Terinspirasi dari produk tersebut, Pria yang akrab disapa kang Jack mencoba mengembangkan amber lokal dengan teknik dan kreativitas sendiri. Hasilnya pun tidak kalah bersaing dengan produk dari negara lain.

Sebelum menetap dan mengembangkan usaha di Sindangpalay, Jakaria sempat memulai perjalanannya di wilayah Datar Nangka, Kecamatan Pabuaran.

Ia mengaku membutuhkan waktu hingga empat tahun untuk belajar dari seorang senior di bidang pengolahan amber, sebelum akhirnya memberanikan diri membuka pabrik sendiri dengan peralatan dan modal seadanya.

Kini, usahanya berkembang pesat. Jakaria telah memiliki sekitar 10 mesin produksi dan mempekerjakan delapan karyawan. Ia juga tercatat sebagai satu-satunya pengusaha di Kota Sukabumi yang memiliki pabrik produksi amber.

Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari tasbih, gelang, liontin, cincin hingga berbagai ukiran berbahan amber. Selain itu, ia juga menjual bahan baku kepada konsumen yang ingin memproduksi sendiri.

“Pasar utama kami saat ini ke luar negeri, terutama Timur Tengah, Eropa seperti Italia dan Spanyol, hingga Amerika. Penjualan juga dilakukan melalui media sosial,” ujar Jakaria, Selasa (21/4/2026).

Bahan baku amber yang digunakan diperoleh dari Sumatera, yang merupakan limbah dari aktivitas pertambangan batubara. Dengan sentuhan inovasi, limbah tersebut diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Meski demikian, Jakaria mengaku masih menghadapi kendala, terutama dalam hal biaya pengiriman ke luar negeri yang cukup tinggi. Untuk pengiriman sekitar 4 kilogram barang, biaya jasa ekspedisi bisa mencapai Rp2 juta.

Ia berharap adanya dukungan dari pemerintah, khususnya dalam mencarikan solusi terkait efisiensi biaya pengiriman agar produk lokal semakin kompetitif di pasar global.

Saat ini, pabrik milik Jakaria melayani pesanan produksi, baik menggunakan bahan dari konsumen maupun dari stok yang tersedia. Operasional pabrik berlangsung setiap Senin hingga Sabtu, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Kisah Jakaria menjadi bukti bahwa limbah sekalipun dapat diubah menjadi peluang besar, selama diiringi dengan ketekunan, inovasi, dan keberanian untuk mencoba. (Her)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist