BRANDA.CO.ID – Paniki merupakan hidangan tradisional Minahasa yang sangat unik, karena menggunakan kelelawar sebagai bahan utama. Meski terdengar ekstrem dan asing bagi banyak orang, di wilayah Minahasa hidangan ini justru adalah bagian dari identitas budaya dan tradisi kuliner.
Sebelum dimasak menjadi Paniki, kelelawar terlebih dahulu dibakar untuk menghilangkan bulu dan mengurangi aroma tidak sedap. Dagingnya kemudian dibersihkan, termasuk bagian dalam seperti isi perut.
Salah satu proses membuat paniki ini penting untuk menjaga rasa dan tekstur yang diinginkan. Selain itu, masyarakat lokal juga menggunakan rempah daun seperti serai dan daun jeruk untuk menyamarkan aroma khas kelelawar.
Hidangan ini dimasak dengan bumbu rica-rica pedas dan santan yang kaya rempah, seperti cabai, jahe, kunyit, bawang merah, bawang putih, dan kemangi. Kombinasi ini menciptakan rasa pedas, gurih, dan wangi rempah yang kuat, khas citarasa kuliner Manado.
Lebih dari sekadar kuliner ekstrem, masyarakat lokal percaya bahwa daging kelelawar buah bermanfaat bagi kesehatan.
Dipercaya dapat membantu mengatasi asma, paru-paru, serta alergi kulit karena kandungan nutrisi dan zat tertentu seperti kitotefin dalam tubuh kelelawar.
Paniki tercatat dalam daftar makanan terburuk di dunia versi Taste Atlas, berada di peringkat ke-37 berdasarkan penilaian audiens pada data 16 Januari 2025. Penilaian ini menunjukkan kontras antara nilai budaya lokal dan persepsi luar, terhadap hidangan ekstrem seperti Paniki.
Namun meski demikian, kuliner ini bukan sekadar hidangan ekstrem, ia adalah cerminan warisan budaya Minahasa, yang menggabungkan teknik pengolahan tradisional dengan keberanian dan kebanggaan daerah.
Meski terlihat menantang selera luar, keunikan dan makna historisnya menjadikannya salah satu kuliner yang layak dihargai dan dipelajari lebih dalam.

