Kampung Kaputren Majalengka: Warganya Sehari-hari Fasih Gunakan Bahasa Asing

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Di kaki pedesaan Majalengka, tepatnya di Desa Putridalem, Kecamatan Jatitujuh, terdapat sebuah perkampungan yang menyimpan kisah luar biasa: Kampung Kaputren.

Kampung Kaputren ini tampak biasa dari luar, namun menyimpan identitas unik yang membedakannya dari desa-desa sekitarnya.

Sebagian besar penduduk Kampung Kaputren pernah merantau sebagai pekerja migran ke negara-negara lain, dan pengalaman itu menjelma menjadi daya hidup yang istimewa di kampung mereka sendiri, berupa kecakapan berbahasa asing yang terus dijaga dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Mayoritas warga Kaputren adalah mantan tenaga kerja Indonesia, terutama TKW, yang pernah bekerja di berbagai negara seperti Malaysia, Arab Saudi, Taiwan, Hong Kong, Korea, Jepang, Brunei, bahkan Jerman.

Karena masa kerja mereka lama, mereka bukan hanya belajar bahasa setempat, tetapi hidup berdialek dalam lingkungan asing. Ketika mereka kembali ke kampung halaman, bahasa-bahasa tersebut tidak ditinggalkan begitu saja; sebaliknya, menjadi jembatan komunikasi antarwarga yang pernah se-negara saat perantauan.

Iin Fatimah, salah seorang warga, menjelaskan bagaimana ketika dua orang yang pernah bekerja di negara yang sama bertemu kembali di kampung, mereka langsung berbicara dalam bahasa negara itu, bukan dalam bahasa lokal seperti Sunda atau Indonesia.

“Banyak yang bisa bahasa Hongkong, Taiwan, tapi kalau bahasa Inggris mah bisanya hanya sedikit,” katanya.

Dari sudut toko kecil hingga acara sosial kampung, percakapan menggunakan bahasa Arab, Mandarin, Hongkong, Taiwan, bahkan dialek Timur Tengah bisa kita dengar, karena kebanyakan warga memang merasa lebih nyaman dengan bahasa yang pernah mereka gunakan selama perantauan.

Kecakapan bahasa asing ini tidak hanya sekadar kenangan masa lalu. Tokoh masyarakat setempat, Amin Halimin, menyebut bahwa warga sengaja mempertahankan kemampuan bahasa tersebut agar tidak hilang.

Mereka aktif melatih diri melalui pertemuan warga, dalam percakapan sehari-hari, bahkan dalam interaksi bisnis lokal.

Beberapa di antara mereka memang pernah berada di negara yang jauh, namun hingga kini, ayam goreng di warung kampung atau obrolan santai sore tetap bisa diselingi dengan kata-kata dari bahasa Arab, Jepang, Korea, atau dialek Asia lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist