BRANDA.CO.ID – Wisata budaya Sunda di Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi, menggambarkan sebuah kampung adat yang tetap menjaga akar tradisi dan identitas leluhur meski berada di tengah perkembangan zaman.
Kampung Adat Cireundeu yang terbentang sekitar 64 hektar, dihuni sekitar 60 kepala keluarga atau kurang lebih 800 jiwa, dan mayoritas masyarakatnya masih memegang teguh kepercayaan asli Sunda, yaitu Sunda Wiwitan.
Salah satu nilai paling khas dari Kampung Adat Cireundeu adalah kemandirian pangan. Pasalnya, masyarakat di sana tidak menjadikan nasi sebagai makanan pokok, melainkan singkong yang diolah menjadi berbagai bidangan.
Prinsip hidup warga kampung tercermin dalam semboyan “Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Zaman”, yang artinya menjaga tradisi dan identitas adat, sambil tetap terbuka terhadap kemajuan zaman.
Setiap tahun, kampung ini merayakan ritual budaya besar dalam tradisi “Tutup Taun Ngemban Taun Saka Sunda”, sebagai momentum refleksi diri dan penyucian sebelum memasuki tahun baru menurut kalender Sunda.
Ritual ini melibatkan doa bersama yang dipimpin sesepuh adat, persembahan hasil bumi seperti singkong dan buah-buahan, serta pertunjukan budaya yang menarik wisatawan lokal maupun pengunjung dari luar.
Lebih dari sekadar objek wisata, Kampung ini juga menawarkan pengalaman edukasi budaya. Wisatawan bisa belajar membuat olahan dari singkong, mencoba musik tradisional, serta ikut menikmati suasana perkampungan adat.
Selain itu, alam sekitar kampung menawarkan pemandangan asri dan rute hiking menuju bukit seperti Puncak Salam, dengan aturan adat tertentu seperti melepas alas kaki saat memasuki area sakral.
Kampung ini tidak saja terus melestarikan budaya leluhur, tapi juga menjadi contoh toleransi: masyarakat dari berbagai agama dan suku hidup berdampingan dengan damai.
Upaya pelestarian juga didukung melalui pariwisata budaya, homestay lokal, dan promosi festival budaya seperti “Cireundeu Festival” yang menjadi ajang pertemuan antara warga adat dan wisatawan.

