Isu Mark Up di Podcast Ramai Dibahas, Aslap Lembursitu 2 Beri Klarifikasi

Ilustrasi by AI : mencuat isu mark up yang dilakukan SPPG.
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Asisten Lapangan (Aslap) dapur SPPG Lembursitu 2, Kota Sukabumi, Sandi Faturohman memberikan tanggapan terkait informasi yang beredar di media sosial, khususnya di YouTube, mengenai dugaan praktik mark up kuantitas dalam pengelolaan dapur SPPG Lembursitu 2.

Informasi tersebut sebelumnya disampaikan oleh seorang konten kreator yang mengangkat cerita dari seorang akuntan yang secara legal menjabat di dapur SPPG Lembursitu 2.

Sandi menjelaskan, informasi tersebut diduga muncul akibat miskomunikasi data dalam proses pencatatan keuangan di internal dapur.

“Kalau informasi yang disampaikan oleh akuntan itu sebetulnya karena adanya miss komunikasi data. Memang akuntan ini beberapa kali membuat kesalahan dalam pengolahan data,” ujar Sandi saat dimintai keterangan, Kamis (5/3/2026) malam.

Menurutnya, kesalahan tersebut terjadi karena adanya perbedaan data antara akuntan, ahli gizi, dan tim SPPI terkait jumlah bahan atau kuantitas yang digunakan dalam operasional dapur.
Namun ia menegaskan bahwa tidak ada praktik mark up harga maupun kuantitas sebagaimana yang dituduhkan.

“Itu sebenarnya tidak ada mark up harga. Hal ini bisa dibuktikan dari data purchase order (PO), gramasi yang ditentukan oleh ahli gizi, hingga laporan ke BGN yang semuanya sesuai dengan invoice,” jelasnya.

Ia menambahkan, perbedaan data tersebut diduga terjadi karena akuntan tidak melakukan pengecekan secara menyeluruh terhadap Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah disusun oleh ahli gizi.

Sandi juga menanggapi pernyataan dalam sebuah podcast yang menyebutkan bahwa akuntan tersebut diminta pindah ke dapur lain oleh pihak mitra hingga akhirnya diminta mengundurkan diri.

Menurutnya, mitra pengelola memang memiliki beberapa dapur operasional. Dalam hal ini, akuntan tersebut hanya ditawarkan untuk pindah sementara ke dapur di wilayah Caringin guna meningkatkan kemampuan dalam pengelolaan data keuangan.

“Mitra hanya sebatas menawarkan untuk pindah ke dapur Caringin agar yang bersangkutan bisa belajar bersama rekan-rekan lain, supaya kemampuan dalam menghitung dan mengelola data bisa lebih baik,” katanya.

Namun tawaran tersebut tidak mendapat respons dari yang bersangkutan. Bahkan menurut Sandi, setelah itu akuntan tersebut tidak masuk kerja selama sekitar satu minggu.

“Kemungkinan di sini terjadi salah tanggapan dari akuntan. Padahal maksud mitra hanya ingin yang bersangkutan belajar agar lebih siap dan berpengalaman,” tambahnya.

Pihak pengelola dapur, lanjut Sandi, juga telah menyampaikan persoalan ini kepada koordinator wilayah (korwil) dan koordinator kecamatan (korcam) agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di masyarakat.

Pasca terjadinya miskomunikasi tersebut, hingga saat ini akuntan yang bersangkutan disebut masih belum kembali bekerja sehingga pihak pengelola akhirnya mengeluarkan surat peringatan.

“Mitra meminta akuntan untuk lebih belajar karena kami tidak main-main dalam mengelola keuangan dapur,” tegasnya.

Meski demikian, Sandi berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara baik-baik.

“Saya berharap masalah ini bisa selesai secara kekeluargaan, karena setelah saya cermati memang yang terjadi adalah miss data,” pungkasnya. (Her)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist