Aksi Preman Tanah Abang Palak Sopir Bajaj 100 Ribu, Korban Sudah Bayar Tetap Diperas

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Aksi dugaan premanisme kembali terjadi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, dan menjadi viral di media sosial. Seorang sopir bajaj dikabarkan menjadi korban pemalakan hingga Rp100 ribu, memicu reaksi keras dari warganet.

Peristiwa ini mencuat setelah sebuah video yang diunggah akun @itsremiaa beredar luas di platform media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang pria diduga preman meminta uang kepada sopir bajaj, yang sedang beroperasi di area tersebut.

Berdasarkan informasi yang beredar, sopir bajaj tersebut diminta memberikan sejumlah uang oleh pelaku. Meski sudah memberikan uang, pelaku disebut masih meminta tambahan lagi.

Situasi tersebut membuat sopir bajaj tidak memiliki banyak pilihan selain mengalah demi menghindari konflik lebih lanjut. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang dialami para sopir angkutan kecil di lapangan.

Aksi tersebut diduga merupakan bagian dari praktik pungutan liar (pungli), yang kerap terjadi di kawasan ramai seperti Tanah Abang.

Dari berbagai laporan yang beredar, praktik pemalakan dilakukan dengan cara meminta “jatah” kepada sopir setiap kali mengambil penumpang. Jika menolak, sopir berisiko mendapat intimidasi hingga kerusakan kendaraan.

“Kalau nggak dikasih, bisa ribut, bahkan dituduh maling,” ujar sopi bajaj tersebut.

Dalam beberapa kasus, jumlah pungutan bisa terakumulasi hingga mencapai Rp100 ribu per hari. Video viral ini langsung menuai kecaman dari netizen. Banyak yang meminta aparat penegak hukum segera turun tangan untuk menindak tegas aksi premanisme tersebut.

Warganet menilai praktik seperti ini sangat meresahkan dan merugikan para pekerja kecil yang menggantungkan hidup dari penghasilan harian.

Selain itu, publik juga menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat di kawasan-kawasan rawan pungli agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Aksi pemalakan seperti ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga berdampak pada rasa aman para sopir. Mereka sering berada dalam posisi sulit: memilih antara kehilangan penghasilan atau menghadapi ancaman.

Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin akan berdampak lebih luas terhadap sektor transportasi informal di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist