BRANDA.CO.ID – Indonesia kaya akan warisan budaya lisan, dan salah satu permata dari Jawa Barat adalah cerita rakyat Ciung Wanara. Kisah ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menyimpan nilai-nilai luhur dan jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri.
Cerita Ciung Wanara berlatar belakang di Kerajaan Galuh, salah satu kerajaan Hindu-Buddha yang pernah berjaya di Tatar Sunda.
Meskipun tidak ada bukti arkeologis atau prasasti yang secara eksplisit menyebutkan tokoh Ciung Wanara, keberadaan cerita ini secara turun-temurun menunjukkan kuatnya akar budaya dalam masyarakat Sunda.
Kisah ini umumnya mengisahkan tentang perselisihan di dalam keluarga kerajaan. Prabu Permana Dikusumah memiliki dua orang istri, Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep.
Dewi Pangrenyep, yang merasa iri dan dengki, melakukan fitnah hingga menyebabkan Dewi Naganingrum diasingkan dan melahirkan seorang putra di hutan. Bayi tersebut kemudian ditemukan dan dipelihara oleh seekor ciung (sejenis burung) dan diberi nama Ciung Wanara.
Seiring berjalannya waktu, bayi tersebut tumbuh menjadi pemuda yang gagah berani dan cerdas. Ia kemudian mengetahui asal-usulnya dan bertekad untuk menuntut keadilan atas perlakuan ibunya.
Dengan kecerdikannya, ia berhasil kembali ke istana dan menantang putra mahkota (anak dari Dewi Pangrenyep) dalam sebuah adu ayam. Kemenangan Ciung membuktikan kebenaran dan membuka kedok kejahatan Dewi Pangrenyep.
Meskipun bersifat legenda, cerita ini diyakini memiliki kaitan simbolis dengan sejarah dan budaya Sunda. Beberapa ahli berpendapat bahwa kisah ini merefleksikan dinamika politik dan sosial yang mungkin terjadi di masa lalu.
Selain itu, cerita ini juga menjadi bagian penting dalam seni pertunjukan tradisional Sunda, seperti wayang golek dan sandiwara.

