Kisah Unik Pecel yang Sudah Ada Sejak Abad ke 9 hingga Serat Centhini

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Hidangan pecel adalah salah satu lambang kuliner Jawa yang paling merakyat, dengan isian sayuran rebus polos yang disiram oleh bumbu kacang gurih.

Namun di balik kesederhanaannya, ternyata pecel menyimpan jejak sejarah yang panjang. Kuliner ini dimulai sejak abad ke‑9 M, saat Kerajaan Mataram kuno berdiri di bawah kekuasaan Rakai Watukura Dyah Balitung.

Tulisan tentang pecel juga muncul dalam Prasasti Taji dari Ponorogo 901 M, serta Prasasti Siman di Kediri yang berasal dari Saka 865 atau sekitar 943 M, menjadi bukti bahwa pecel bukan sekadar masakan biasa, melainkan bagian dari tangga sejarah kuliner Jawa.

Lebih jauh lagi, kuliner ini disebut dalam Babad Tanah Jawi, cerita sejarah-legenda yang menjadi bagian lengkap narasi asal usul masyarakat Jawa, kemudian kembali tampil dalam Serat Centhini, karya sastra monumental terbit tahun 1814 M atau tahun Saka 1742.

Lewat Serat Centhini, pecel turut terekam sebagai bagian dari hidup sehari-hari rakyat Jawa di masa kini, dengan bahasa indah yang menautkan masa lampau dan masa depan.

Jejak sejarah ini menunjukkan bahwa pecel bukan sekadar hidangan arus kuliner populer, tetapi bagian dari warisan budaya yang tetap relevan hingga kini. Di masa lalu, masyarakat Jawa umumnya hidup simpel.

Sayur-sayuran musiman, sambal kacang berbumbu rempah, dan nasi atau ketupat sebagai pendamping mencerminkan filosofi keberlanjutan dan kesederhanaan.

Kekayaan rasa kuliner ini tercipta dari adaptasi bahan lokal, memanfaatkan apa yang ada di ladang atau kebun dengan kreativitas bumbu kacang yang sederhana, namun memikat lidah.

Seiring waktu, hidangan ini berkembang dengan ragam lokal. Di Jawa Tengah, saus pecel terasa manis sedap dan agak pekat, sementara di pesisir utara Jawa, bumbu cenderung lebih pedas dan cair.

Di Madiun, terkenal dengan saus kacang yang tipis dan pedas lengkap taburan biji lamtoro, kemudian di Tegal, siapa sangka bahan saus bisa menyertakan singkong yang memberi tekstur berbeda? Semua ini menegaskan betapa fleksibelnya pecel dalam menyerap identitas lokal setiap wilayah.

Kini, pecel sudah menyebar jauh dari Jawa. Di Malaysia dikenal sebagai “pecal” oleh komunitas perantau Jawa, sedangkan di Suriname hidangan ini juga menjadi bagian kuliner yang digemari banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist