RANDA.CO.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi memastikan kualitas air sungai di wilayahnya sepanjang 2025 berada dalam kondisi baik dan masih memenuhi baku mutu lingkungan.
Hal itu merujuk pada hasil pengujian Indeks Kualitas Air (IKA) yang mencatat nilai rata-rata mencapai 81,63. Angka tersebut menempatkan kualitas air sungai dalam kategori baik, meski terdapat perbedaan nilai di sejumlah titik pantau.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kota Sukabumi, Tri Sari Setiati, menjelaskan, nilai IKA terendah tercatat sebesar 77,52 di Sungai Cipelang Tengah, sementara tertinggi mencapai 90,74 di Sungai Cipelang Hilir.
“Secara umum kualitas air sungai di Kota Sukabumi masih aman dan memenuhi baku mutu, dengan rata-rata indeks 81,63,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan, rentang nilai IKA antara 70 hingga 90 masuk kategori baik atau tercemar ringan, sedangkan nilai di atas 90 menunjukkan kondisi sangat baik atau mendekati alami.
Pengukuran tersebut menggunakan metode NSF Water Quality Index yang mencakup parameter fisik, kimia, dan biologi. Air dengan kualitas baik umumnya memiliki karakter jernih, pH netral (6–9), serta kandungan bakteri seperti Escherichia coli dan total koliform yang rendah.
Meski demikian, DLH mengingatkan potensi pencemaran tetap ada. Kondisi geografis sungai yang mengalir dari hulu ke hilir membuatnya rentan tercemar aktivitas manusia di sepanjang aliran.
“Pencemaran umumnya berasal dari kebiasaan membuang sampah sembarangan, limbah rumah tangga, hingga saluran tinja yang langsung dialirkan ke sungai,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya, seperti pembangunan septic tank komunal, penanaman pohon di bantaran sungai, penebaran bibit ikan, hingga pelaksanaan program kali bersih secara rutin, salah satunya di Sungai Cipada, Kecamatan Gunung Puyuh.
Pengujian kualitas air dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada musim hujan dan kemarau. Perbedaan musim disebut turut memengaruhi hasil pengukuran.
“Pada musim kemarau, pencemar cenderung terakumulasi, sementara saat musim hujan sebagian terbawa arus,” pungkasnya.

