BRANDA.CO.ID – Di tengah kesibukan kota Ansan, sekitar 37 kilometer dari Seoul, muncul sebuah pemandangan tak biasa, yaitu seorang pria berkeliling sambil menjajakan jajanan khas Indonesia, cilok.
Pria tersebut lebih dikenal sebagai “Cilok Hengnim”, dan kisahnya kini viral di berbagai media. Ia merupakan orang Korea asli yang pernah tinggal di Indonesia.
Saat tinggal di sana, ia terbiasa menikmati berbagai kuliner lokal, namun ketika di Korea, ia menyadari bahwa jajanan Indonesia sangat jarang ditemukan. Dari situlah muncul ide unik, yaitu menjual cilok keliling sebagai cara untuk mengobati kerinduan sesama warga Indonesia di Korea.
Ia belajar meracik cilok dari istrinya yang berdarah Indonesia. Salah satu elemen penting menurutnya adalah saus kacang, karena banyak orang Indonesia menyukai cita rasa saus kacang yang kental dan gurih.
Oleh sebab itu, setiap porsi cilok yang dijualnya dilengkapi dengan saus kacang lezat. Ia sendiri mengaku bahwa bisnisnya masih dalam tahap perintisan, sehingga ia belum menjual setiap hari.
Ia juga belum menentukan rute tetap; penjualan dilakukan sesuai kemana sepeda dagangnya melaju. Saat kisahnya viral, ia memang sedang berada di Ansan.
Sejauh ini, mayoritas pembeli ciloknya adalah warga Indonesia di Korea yang rindu makanan khas Tanah Air. Namun, sejumlah pembeli lokal Korea yang sempat mencicipi juga memberi tanggapan positif tentang rasa cilok tersebut.
Untuk satu porsi cilok, ia menetapkan harga 10.000 won, atau sekitar Rp 117 ribu. Meskipun terbilang mahal dibanding jajanan kaki lima di Indonesia, bagi komunitas Indonesia di Korea harga tersebut dianggap wajar, terutama karena bahan baku dan ongkos impor bahan kuliner Indonesia cenderung tinggi.
Ia juga memiliki harapan besar, yaitu ingin memperluas jangkauan penjualan ini tidak hanya di Korea, tetapi juga ke negara lain. Ia bahkan membayangkan menjajakan cilok keliling dunia menggunakan sepeda, membawa cita rasa Indonesia ke banyak tempat.
Kisah ini bukan hanya viral karena keunikannya, melainkan juga karena pesan yang diusung, yakni bahwa kuliner bisa menjadi jembatan budaya.
Seorang warga negara asing yang mencintai kuliner Indonesia, mau belajar dan memperkenalkannya, menunjukkan betapa kuatnya daya tarik kuliner Nusantara di mata dunia.

