Papajar, Tradisi Unik Masyarakat Cianjur Jelang Bulan Suci Ramadhan

Wafa Fauzan/Penulis : Papajar, Tradisi Unik Masyarakat Cianjur Jelang Bulan Suci Ramadhan.
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Masyarakat muslim Sunda khususnya di Cianjur memiliki tradisi unik dalam menyambut Ramadan.

Tradisi ini biasanya dilakukan dengan jalan-jalan ke tempat wisata atau ke pusat kota bersama keluarga dan membawa bekal makanan yang kemudian dimakan bersama-sama.

Tradisi ini kemudian populer dengan sebutan papajar yang konon katanya sudah ada sejak abad ke 16.

Papajar berasal dari kata mapag pajar (menyambut fajar, red). Dalam bahasa Sunda, istilah ini cukup tua untuk menyambut kemunculan sesuatu misalnya srangenge ti langit, tangara raja papajar dan lain-lain.

Jika fajar identik dengan terbitnya matahari,  maka papajar merupakan sambutan untuk terbitnya bulan Ramadan.

Biasanya kegiatan papajar diisi dengan rekreasi dan makan-makan sepekan sebelum berpuasa.

Kegiatan papajar ini juga biasa saya lakukan dengan keluarga kecil saya, biasanya saya pergi jalan-jalan ke tempat wisata religi.

Seperti tahun ini, yang saya lakukan dengan bertaqziyah ke makam Bupati Cianjur pertama (R.A Wiratanu Datar I) Cikundul.

Takkan lupa dalam acar keluarga ini, biasanya membawa makanan sambil menggelar tikar dan makan-makan bersama.

Lalu sejak kapan tradisi ini dimulai?

Setelah saya baca beberapa judul yang membahas mengenai papajar, ada beberapa literasi bacaan yang membahas papajar.

Kemudian saya paparkan dibeberapa tulisan saya berikutnya.

Menurut litersai yang saya baca, awalnya tradisi papajar merupakan tradisi menunggu bulan puasa di masjid.

Pada masa kepemimpinan Wiratanudatar II (Dalem Tarikolot) sekitar tahun 1691-1707, masyarakat berkumpul di Masjid Agung Cianjur untuk menunggu pengumuman dimulainya berpuasa.

Esensi sebenarnya dari papajar yaitu untuk memohon doa dan meminta maaf. Akan tetapi, karena kegiatannya diisi dengan rekreasi maka terjadi pergeseran menjadi ajang memuaskan diri, terutama makan dan minum di siang hari.

Selain tradisi papajar ada juga tradisi yang dikenal dengan Munggahan. Perbedaannya, Munggahan biasanya dilakukan di rumah berkumpul dengan keluarga sambil makan dan berdoa.

Munggah artinya naik untuk melangkah ke bulan Ramadan. Munggahan ini dilakukan tepat satu hari sebelum Ramadan tiba (poe munggahan).

Di masa Wiratanudatar III (1707-1726) wilayah Cianjur mencakup Sukabumi hingga perbatasan Bogor dan Bandung.

Tradisi unik menyambut Ramadhan sebenarnya juga dilakukan di wilayah lain seperti di Bali ada Megibung, di Riau ada Pacu, di Betawi ada Nyorog, di Semarang ada Dugderan, di Aceh ada Meugang, di Sumatera Barat ada Balimau dan di Jawa Tengah ada Dandangan.

Berbagai negara di belahan dunia juga turut memiliki kebiasaan dalam menyambut bulan suci, seperti tradisi Fanous di Mesir, Roadha Mas di Maldive dan tembak meriam di Arab Saudi.

Begitulah cerita tradisi papajar.

umumnya papajar juga dilakukan dengan berbagai cara misal ada keluarga yang papajar dengan berbelanja menyiapkan bahan pokok untuk lebaran atau disebut juga “munggahan”.

Kalo keluarga kalian biasa melakukan apa dalam menyambut bulan ramadhan,?***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist