BRANDA.CO.ID – Di tengah dinginnya lembah dataran tinggi Himalaya yang menjulang, seorang pria asal Magelang menorehkan jejak petualangan yang tak biasa.
Priyo Handoko, pria berusia 40 tahun, memacu sepeda motornya jenis Honda CB 125 buatan 1973 menembus lorong‑pegunungan Himalaya, dengan ketinggian ekstrem.
Motor tua “CB” bernomor pelat AA itu bukan hanya alat transportasi biasa, melainkan medium ekspresi semangat dan tantangan. Perjalanan ke Himalaya Priyo bermula dari program pribadinya yang ia rancang: “Riding Anything Can Go Anywhere”.
Ia telah menorehkan beberapa etape ekstensif turing luar negeri, menyinggahi delapan negara hingga kini. Saat etape ketiganya, ia menyasar jalur tertinggi yang bisa dilalui kendaraan di dunia, yaitu Khardung La di wilayah pegunungan Himalaya, dengan ketinggian sekitar 5.610 meter di atas permukaan laut.
Dengan motor yang bukanlah model terbaru, Priyo menunjukkan bahwa semangat dan tekad bisa mengalahkan keterbatasan medium. Ia melewati medan bersalju, udara tipis, dan kondisi ekstrem yang menuntut keberanian.
Saat memasuki Khardung La, ia sempat merekam momen bersama motor tua di latar penanda kawasan tersebut, video yang kemudian viral di media sosial, setelah diunggah oleh akun Instagram bernama “@magelang”.
Dalam unggahan itu, terlihat dirinya berdiri gagah dengan motornya, tanah putih salju membentang sebagai latar belakang. Priyo sendiri mengaku, video viral tersebut awalnya hanya dikirim kepada istrinya sebagai dokumentasi pribadi.
Ia tak menyangka bahwa unggahan itu kemudian menyebar dan menjadi sorotan. Untuk menempuh turing ini, sejak solo riding dari etape pertama, motornya ditinggal di luar negeri dan ditempatkan pada teman‑temannya, sebelum Priyo kembali melanjutkan perjalanan.
Bukan sekadar melintas, Priyo menekankan bahwa tiap negara yang disinggahinya ia eksplor secara santai: tak sekadar “dicentang di peta”, namun benar‑benar merasakan atmosfer lokal.
Saat ini, ia telah menjejak delapan negara dalam rangkaian turingnya. Misi berikutnya? Melanjutkan dari Nepal ke India dan sempat mengincar Pakistan, meski akhirnya terkendala tutupnya perbatasan.
“Intinya saya punya program Riding Anything Can Go Anywhere… Untuk etape ketiga dari Nepal, eksplor India terus Pakistan,” ujar Priyo.

