Sejarah Kerupuk di Indonesia, Makanan Pokok Saat Masa Penjajahan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

BRANDA.CO.ID – Kalau hari ini kita mengenal kerupuk sebagai camilan ringan atau pendamping santapan sehari-hari, ternyata sejarahnya di Nusantara sudah sangat tua.

Menurut sejarawan Fadly Rahman, dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia, kata “kerupuk” telah tercatat dalam naskah kuno Jawa sejak sebelum abad ke-10 Masehi. Artinya, masyarakat kuno sudah mengonsumsi sebagai pelengkap makan sejak lebih dari seribu tahun lalu.

Salah satu bentuk paling awal dari kerupuk adalah rambak, kerupuk kulit yang dibuat dari kulit sapi atau kerbau. Rambak termasuk jenis yang tertua di Jawa. Selama abad tua itu, kulit hewan menjadi bahan alternatif yang fleksibel untuk dibuat jadi makanan kering dan tahan lama, cocok bagi kebutuhan masyarakat kala itu.

Namun perkembangan hidangan ini tidak berhenti pada kulit hewan. Pada abad ke-19, ketika produksi singkong melimpah di Jawa, muncullah varian baru yakni kerupuk aci, terbuat dari tepung singkong.

Karena singkong tersedia banyak, penduduk menjadikannya sumber pangan utama, terutama saat situasi sulit, seperti masa defisit pangan akibat perang atau kebijakan tanam paksa.

Tepung singkong diolah, dicetak, dijemur, lalu digoreng, lalu menjadi kerupuk. Pada masa tersebut, terutama di kalangan masyarakat miskin, kerupuk aci bahkan dijadikan lauk pokok bersama nasi.

Situasi krisis pangan pada dekade 1930‑an hingga 1940‑an membuat hidangan ini menjadi penyelamat bagi banyak keluarga miskin. Ketika daging dan lauk biasa sulit dijangkau karena mahal, kerupuk dan nasi menjadi makanan andalan.

Fadly menyebut bahwa di masa itu, hidangan ini bukan sekadar jajanan atau makanan pendamping, tapi bisa jadi satu‑satunya lauk yang memungkinkan untuk bertahan hidup.

Di sisi lain, varian rambak memiliki konotasi sosial yang berbeda. Karena dibuat dari kulit sapi atau kerbau, bahan yang umumnya dianggap lebih ‘berkelas’, rambak kerap dikonsumsi oleh kalangan atas pada masa Hindia Belanda atau priyayi.

Namun bukan berarti kerupuk hanya milik kaum elit: sepanjang sejarah, masyarakat dari berbagai lapisan sosial mengonsumsinya, baik rakyat jelata maupun bangsawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add New Playlist